JEF's Journey - Gemar Ikan Nasional

22:06:00

Banjarmasin, Februari 2014

Bersama rekan satu kelompok mayor

"Because I'm happy
Clap along if you feel like a room without a roof
Because I'm happy
Clap along if you feel like happiness is the truth"

Potongan lagu dengan berirama ceria mengalun dari ruang SMF anak di pagi hari. Tepat sebelum memulai laporan pagi, dr. Arief, konsulen kami hari itu, memutar lagu tersebut di ruangannya. Saya yang sudah hampir sebulan lebih menjalani koas di stase anak tidak pernah lagi menyentuh musik (bahkan untuk sekedar update lagu), dikarenakan kesibukan yang cukup padat. Hari itu, untuk pertama kalinya saya mendengar lagu Happy dari Pharrell Williams yang sebenarnya sudah sangat ngetrend di kalangan masyarakat luas.

"Hm... Lagunya catchy juga." pikirku saat pertama kali mendengar.

Selang beberapa minggu kemudian, saya bertugas di bagian IGD anak. Saat itu malam Sabtu, dan pasien yang datang cukup banyak. Saya berjalan ke bagian luar rumah sakit untuk membeli minum sebentar. Tak sengaja, saya mengamati TV di ruang administrasi yang menayangkan acara Indonesian Idol. Tampak seorang wanita gemuk (yang terlihat seperti laki-laki) bernama Yuka menyanyikan lagu Happy - Pharell Williams.  Racun lagu tersebut baru berhasil merasuki saya di pendengaran yang ke dua. Saya kemudian men-download lagu tersebut beberapa hari kemudian untuk sekedar mendengarkannya kembali.


Banjarmasin, April, 2014

 

Koas stase anak telah selesai saya lalui, dan sekarang saya berada di stase kulit dan kelamin. Berhubung di stase ini tidak begitu banyak kesibukan, saya memiliki banyak waktu luang di rumah. Waktu tersebut saya gunakan untuk mencari info lomba cipta lagu di internet yang sudah lama tidak saya ikuti. 

Saat pertama di stase Kulit dan Kelamin

"LOMBA CIPTA LAGU DAN DESAIN LOGO GEMARIKAN HARI IKAN NASIONAL" tulisan di salah satu website kementrian kelautan dan perikanan. Berhubung deadline masih sekitar 1 bulan lagi, saya langsung menyiapkan lagu untuk mengikuti kompetisi tersebut. Saya menghubungi Eben ke rumah saya untuk mengonsep lagu tersebut.

Setibanya ia di rumah saya kami menghadapi masalah terberat, yakni buntu akan inspirasi. Kami sama sekali tidak memiliki ide bagaimana lagu yang akan kami buat. Terlebih, kami sudah hampir 3 bulan tidak membuat musik lagi, sehingga agak susah untuk memulainya kembali.

"Gimana klo kita bikin musiknya sejenis lagu Happy - Pharell Williams?" celetuk-ku. "Di lagu Happy, dari awal sampai akhir beat yang digunakan datar dan pembeda antara chorus dan verse adalah bunyi clap-nya."

Rupanya meskipun sudah lama tidak menyentuh musik, naluri membedah lagu-ku masih berjalan dengan baik. Semenjak sering membuat lagu, saya sangat jarang untuk menikmati sebuah lagu seutuhnya. Yang ada di kepala saya setiap kali mendengar lagu adalah: "Ini gimana cara bikin aransemen-nya, ya?", atau "Mixing dan mastering-nya bagus, bisa buat dijadikan referensi, nih!", dan segudang pertanyaan lainnya.

Saya kemudian mencari beat-beat lagu di plug in komputer, dan berakhir pada salah satu beat yang terdengar cukup unik.

"Ya, ini beat-nya bagus. Coba kamu bikin nada lagu dari beat ini." ucapku pada Eben. Hal ini agak unik, karena biasanya kami membuat lagu dimulai dari nada baru ke musik, namun untuk kali ini dimulai dari membuat beat dasar baru ke nada.

Di luar dugaan, Eben mengeluarkan nada dari mulutnya yang menurut saya sangat bagus. Nada yang ia buat seperti bernuansa lagu Irian. Saya langsung setuju dengan nada tersebut. Kemudian kami mulai mengerjakan lirik lagu tersebut. Kami ingin pada bagian chorus lagu tersebut be-rima akhiran "ee" karena unsur etniknya akan terdengar lebih kental.

"Dari sabang sampai marauke
Jalesveva jaya mahe"

Fyi, jalesveva jaya mahe merupakan bahasa sansekerta dan semboyan TNI AL yang berarti "di lautan kita jaya". Ide Eben untuk memasukan lirik lagu tersebut benar-benar brilian. Ia mengaku mengetahui istilah tersebut saat bertugas menjadi penangkap bola (ballboy) pada acara ulang tahun SMA kami, di mana acara tersebut dilaksanakan di lapangan TNI AL.

Setelah konsep lagu sudah selesai, kami mulai mengerjakan musiknya. Di bagian musik saya masih menggunakan referensi lagu Happy - Pharrell Williams sebagai bahan utama. Bagian awal dan chorus lagu menggunakan beat yang sama, namun pada bagian chorus terdapat clap. Selain itu saya juga mengambil referensi dari lagu BBM Campuran - Eka Gustiwana untuk selingan isian instrument lagu, dan Counting Stars - Onerepublic pada bagian bridge. Sementara untuk sentuhan piano saya terinspirasi dari Roar - Katy Perry.

Setelah beberapa hari menyelesaikan musik, kami mulai memikirkan siapa penyanyi yang cocok untuk lagu itu. Tidak perlu berpikir lama untuk kami hingga akhirnya memutuskan dengan sangat yakin, Niluh sebagai vokalisnya. Karakter vokalnya sangat cocok dengan lagu tersebut. Dan kebetulan Niluh bersedia untuk berkerja sama dengan kami membuat lagu.

Lagu sudah selesai di take vocal, namun saya masih merasa ada yang kurang. Di bagian bridge saya ingin ada koor vokal ramai yang mengiringi Niluh bernyanyi. Saya menghubungi pengisi suara "anak-anak kampung" di intro lagu Jingle BNI saya kemarin, yakni Adit, Eris, dan Saldy. Namun, Eris dan Saldy sedang berhalangan sehingga hanya Adit yang bisa datang. Kami kemudian mulai mengerjakan lagu tersebut. Akhirnya setelah 1,5 bulan proses pembuatan, lagu tersebut selesai kami buat.




***

Sekitar 5 bulan setelah mengirim lagu tersebut, masih belum ada kabar mengenai pengumuman pemenang lagu itu. Hanya ada pengumuman nomor peserta yang terdaftar dalam lomba tersebut. Karya saya berada di nomor urut 22 dari 178 peserta. Melihat dari nama-nama peserta yang terdaftar, sebenarnya persaingannya akan sangat berat karena saya melihat banyak nama yang sudah tidak asing lagi sebagai peserta lomba cipta lagu dan jingle.

Siang itu saya sedang koas di stase mayor lainnya, yaitu Ilmu Penyakit Dalam. Sehari setelah bertugas jaga malam, saya yang baru sampai di rumah langsung tidur di sofa ruang tamu. Suara nada dering handphone membangunkan saya dari tidur.

"Nomor asing, tumben." pikirku. Terlebih nomor tersebut diawali nomor 021.

"Selamat sore, apa betul ini dengan Saudara Jefry?" tanya suara di seberang sana.

"Iya, betul. Maaf, ini dari siapa, ya?"

"Maaf mengganggu, Mak. Saya Agus, panitia dari acara Kementrian Kelautan dan Perikanan, ingin menginformasikan bahwa lagu Anda masuk sebagai finalis 5 besar lomba cipta lagu Gemar Ikan."

"Gi...gimana mas?" tanyaku setengah tidak percaya.

"Iya, jadi lagu mas masuk 5 besar. Untuk undangan dan informasi acara di final nanti sudah saya kirimkan ke e-mail mas ya. Selamat!"


Saya langsung bergegas mengabari Eben dan Niluh mengenai berita tersebut. Akhirnya setelah menyiapkan segala keperluan, saya dan Eben berangkat ke Jakarta, sementara Niluh tidak ikut karena berhalangan.

Untuk pertama kalinya berita tentang kami dapat menembus halaman pertama koran


Jakarta, 27 Agustus 2014


Saya dan Eben menginap di hotel yang disediakan panitia bersama dengan peserta lomba lainnya. Kami tiba di hotel pukul 10 malam, dan merupakan peserta paling akhir yang tiba di hotel. Hal ini dikarenakan delay keberangkatan pesawat. Alhasil kami melewatkan sesi makan malam bersama dan langsung beristirahat di kamar. Kami berbagi kamar dengan Handy, salah seorang peserta desain logo. Setelah berbincang-bincang singkat, kami langsung tidur karena keesokan harinya sudah harus bangun pagi untuk berangkat ke JCC.



Pukul 7 pagi saya dan Eben sudah berada di lobi hotel untuk menyantap makan pagi. Di sana untuk pertama kalinya saya bertemu dengan pemenang jingle lainnya. Selang 1 jam kemudian kami berangkat menuju JCC menggunakan mobil yang disediakan panitia.

Kiri ke kanan: Thovik - Rico - Okta - Reza - Jefry (foto diambil dari FB Reza)

Di luar dugaan, seluruh peserta pemenang lomba jingle ternyata sangat ramah dan terbuka dalam berbagi ilmu. Mereka semua memang cukup banyak pengalaman di bidang musik, sehingga saya tertarik untuk menyerap ilmu dari mereka satu persatu. Setelah berbagai urutan acara, akhirnya tiba saatnya untuk pengumuman pemenang lomba. Adapun untuk pemenang lomba ternyata tidak  mengejutkan karena urutan pemenangnya sesuai dengan poster daftar pemenang lomba (walaupun ditulis di sana nomor urut peserta yang tertulis bukan nomor urut pemenang). Hal ini berarti saya juara harapan dua.

Kami semua kemudian naik ke atas panggung untuk menerima hadiah sebagai pemenang lomba.

"Ya, jadi peserta lomba ini ada dari berbagai wilayah Indonesia. Bahkan ada yang dari Banjarmasin, loh!" Dan kembali, pada pengumuman pemenang lomba ke-dua yang saya ikuti, kota Banjarmasin mendapatkan sorotan khusus dari MC. Mungkin karena banyak orang yang beranggapan jika kota Banjarmasin merupakan kota yang masih sangat kecil.


Tengah: Bapak Saut Hutagalung (Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan)
Saya: "Makasih eaaaa, Pak!"
Bapak Saut: "Nyante dikit mukanya bisa gak, dek?"



Setelah sesi berfoto-foto dan beramah tamah ke seluruh peserta, rencananya kebanyakan dari peserta akan pulang ke kota masing-masing. Saya langsung memulai gerakan untuk mencuri ilmu sebanyak-banyaknya.

"Mas Thovik, sharing dong gimana sih tekhnik membuat lagu yang baik?" tanyaku ke Thovik yang merupakan jawara pertama lomba tersebut. Ia memang sangat banyak pengalaman dan ilmu di bidang musik meskipun bekerja sebagai seorang PNS. Bahkan di tahun 2006 lagunya masuk ke finalis lomba Cipta Lagu Populer (CILAPOP) yang diadakan oleh TV 7 dan dinyanyikan personill Yovie and The Nuno.

"Jadi pada prinsipnya, yang membuat lagu itu disukai ada 5 hal. Pertama nada lagu, ke-dua lirik lagu, ke-tiga penyanyi lagu tersebut, ke-empat pencipta lagunya, dan ke-lima ...... (maaf, penulis lupa apa point terakhir)." jawabnya.

"Boleh saya minta lagu-lagunya Mas Thovik buat saya dengar?"

"Boleh, copy aja dari BB saya."

Saya kemudian meng-copy beberapa lagu karyanya. Terus terang saya sangat mengagumi karya darinya. Bahkan ketika lagu ciptaannya untuk kompetisi gemar ikan diputar untuk pertama kalinya saat acara, saya dan Eben kemudian saling berpandangan dan geleng-geleng kepala.

"Ya pantes aja lah jadi juara 1. Lagunya bagussss banget!" ucap Eben kepadaku. Saya menggangguk sangat setuju. Paduan orkestra yang sangat indah dan tema lagu yang cerdas mengantarkannya menjadi jawara lomba lagu ini. Di saat orang lain membuat lagu kompetisi gemar ikan dengan target orang tua ke atas, ia membuat lagu dengan target anak-anak. Jika saat anak-anak saja sudah gemar ikan, apalagi saat dewasa.



Selain dengan Thovik, saya juga sharing-sharing ilmu dengan Rico, Okta, dan Reza. Rico sang juara dua lomba cipta lagu berusia 27 tahun, dan bekerja di bidang swasta. Ia memang sering menciptakan lagu dan mempublishnya di social media seperti soundcloud dan youtube. Bahkan karya-karyanya banyak disukai oleh orang-orang. Yang menarik adalah Okta dan Reza, karena mereka merupakan sepasang suami-istri yang baru saja menikah. Reza memiliki latar belakang lulusan universitas di bidang musik sehingga teori musiknya sangat baik. Saya sempat sedikit belajar darinya mengenai bagaimana pengaturan aransemen dan mixing orkestra yang baik.

Bertemu dengan rekan-rekan sesama pencipta lagu merupakan suatu kesempatan yang sangat menyenangkan bagi saya karena memiliki hobi yang sama. Sebenarnya sebelum bertemu mereka, saya sudah tidak asing lagi dengan nama-nama mereka karena sering membaca nama mereka tertera sebagai jawara lomba cipta lagu.


Setelah menyerap ilmu dari rekan peserta pencipta lagu, kali ini saya dan Eben mendekati juri lomba cipta lagu tersebut, yakni Pak Kelik dan Pak Bambang. Pak Kelik seorang pemain Saxophone, sementara Pak Bambang seorang pemain Violin.

Saya dan Eben menyapa Pak Kelik terlebih dahulu dan memperkenalkan diri.

"Pak, bisa minta saran dan kritik tidak untuk lagu saya?" tanyaku.

"Boleh. Lagu kalian bagus, ko. Hanya saja untuk harmonisasi dan untuk artikulasi vokalnya kurang jelas. Bukan berarti harmonisasi lagu kalian jelek, hanya saja dibandingkan lagu finalis lainnya, lagu kalian kalah di harmonisasi." jawab Pak Kelik.

"Klo bagi saya mungkin lagu kalian kurang untuk mengajak orang makan ikan-nya. Coba lain kali kalian buat lagu dengan irama dan beat yang unik, contohnya bisa ambil dari lagu-lagu salsa atau samba. Tapi selebihnya lagu kalian bagus, ko." ucap Pak Bambang ketika kami ajukan pertanyaan yang sama dengan Pak Kelik.

Mendapatkan kritikan langsung dari juri merupakan hal yang penting bagi saya. Karena dengan itu saya bisa langsung mengetahui apa saja kekurangan saya. Saya justru sangat senang karena beliau berdua mau berkata secara jujur apa kekurangan lagu saya.

Ujung kiri: Pak Bambang, Tengah: Pak Kelik


Setelah kenyang dengan ilmu, kami semua beranjak pulang karena memang acara sudah selesai. Bersama dengan rekan-rekan peserta yang lain menuju ke bandara, saya berhenti di dekat mall Central Park karena apartemen keluarga saya berada di sana.

"Lah, ko 'cuman' juara harapan dua aja?" tanya seseorang kepada saya setelah saya mengabarkan ke rekan-rekan di Banjarmasin mengenai hasil lomba tersebut. Banyak dari orang-orang terdekat saya yang berekspektasi tinggi terhadap saya di lomba ini. Terlebih tahun lalu saya mendapatkan juara satu lomba Jingle BNI London sehingga ada yang beranggapan jika saya pasti juara satu lagi.

Saya hanya menjawabnya dengan senyuman. Karena saya tau, orang yang menganggap saya gagal di kompetisi ini karena 'cuman' juara harapan dua, adalah orang yang hanya melihat hasil, bukan proses. Ia mungkin hanya melihat saya sebagai juara 1 lomba jingle tahun kemarin, dan juara harapan dua tahun ini. Ia tidak melihat bagaimana perjuangan saya sesungghunya.

Di antara waktu tersebut, saya ada mengikuti beberapa lomba yang hasilnya karya saya kalah total. Bukan cuman satu atau dua kali, tapi sangat sering. Di tambah lagi kesibukan saya sebagai seorang dokter muda yang cukup menyita waktu, sehingga saya tidak bisa lagi menghabiskan banyak waktu di musik. Melihat dari bagaimana ketatnya kompetisi cipta lagu nasional, saya sudah cukup bangga dengan pencapaian juara harapan dua. Terlebih umur saya termuda dan pengalaman saya terminim dibandingkan rekan peserta yang lain. Akan masih banyak perjalanan yang akan saya tempuh menuju puncak. Pada prinsipnya, saya berpendapat bahwa orang yang berkarya dengan kemampuan seadanya itu lebih baik dibanding orang yang punya skill hebat tapi tidak pernah berkarya.


Oiya, berhubung rencananya lagunya nanti akan dijadikan 1 CD kompilasi gemar ikan yang disebar di Indonesia, maka saya tidak bisa mempublish lagunya secara umum. Untuk teman-teman yang ingin mendengar lagu saya pada kompetisi ini bisa menghubungi saya via email ke jefryat@yahoo.com atau tinggalkan alamat e-mail di box comment.

You Might Also Like

0 comments