Kesempatan Kedua

15:01:00



"Kamu shalat?" tanya seorang dokter spesialis ke seorang anak muda berusia 15 tahun-an yang duduk dihadapannya.

Anak muda tersebut adalah pasien dari dokter itu. Ia baru selesai menjalani operasi sekitar 2 bulan yang lalu. Operasi berjalan lancar, hanya saja pada fase setelah operasi anak muda itu sempat tidak sadarkan diri. Nadi melemah, napas tersendat, kesadaran menurun, dan angka kandungan oksigen dalam tubuhnya menurun hingga di bawah nilai normal. Singkatnya, ia sekarat di ruang ICU.

Sekantung darah yang seharusnya sedari awal masuk ke tubuhnya tak kunjung jua datang. Alasan dari keluarganya adalah persediaan darah yang saat itu sulit dicari. Golongan darah anak tersebut tergolong jarang sehingga cukup susah untuk mencarinya, terlebih stok darah di PMI yang saat itu memang sedang tidak ada.
Kulit anak itu tampak sangat putih pucat kekurangan kandungan darah dalam tubuhnya. Tidak banyak yang bisa pihak Rumah Sakit lakukan karena memang satu-satunya yang diperlukan adalah sekantung darah.

Namun, di luar dugaan anak tersebut masih bertahan hidup hingga sekarang setelah melewati fase kritis. Entah bagaimana hal itu terjadi, nyatanya ia sekarang duduk dihadapan saya yang tengah mendampingi dokter spesialis tersebut di poliklinik.

Ia hanya terdiam sejenak dan tampak kebingungan mendengar pertanyaan yang diajukan oleh dokter. Sesekali ia tertawa cengengesan. Ayahnya yang duduk disampingnya juga hanya tampak diam sedari tadi.
Setelah membolak-balik kertas hasil pemeriksaan laboratorium pasien, sang dokter kembali memperhatikan wajah anak itu.

"Saya tanya sekali lagi, kamu shalat?"

"I-iya dok. Saya shalat." jawab anak muda itu.

"Kamu tau, setelah operasi kemarin kamu sekarat. Tapi Allah berkehendak lain. Allah memberikanmu kesempatan kedua untuk hidup." ucap sang dokter sambil melirik tajam. Matanya mencerminkan keseriusannya. "Kamu... Jadilah orang yang baik. Allah bukan tanpa alasan memberikanmu kesempatan untuk hidup kembali. Pasti ada tujuan tertentu."

Anak muda itu kembali hanya tersenyum kecil tanpa mengeluarkan sepatah kata. Entah ia tidak mengerti atau mengira ucapan dokter tersebut hanyalah candaan belaka.

Saya yang sedari tadi berdiri disamping mereka tertegun dengan apa yang baru saja saya saksikan. Perkara hidup mati itu memang sudah diatur oleh-Nya. Bahkan seorang dokter spesialis konsultan sekalipun tidak bisa memprediksinya.

Jika kita masih diberi umur hingga sekarang, artinya Allah punya tujuan untuk hidup kita yang harus kita jalani. Jadi, masih mau bermalas-malasan? Atau mungkin kita perlu disadarkan dengan pertanyaan "Kamu shalat?" juga. Sayangnya, tidak ada yang tau apakah kita akan mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup jika suatu saat kita sekarat nanti.

You Might Also Like

0 comments