“Kok Saya Alay Sekali Dahulu?”

23:46:00



Setiap anak-anak pasti akan melewati fase “alay” yang merupakan jembatan menuju kedewasaan. Saat kita dahulu (lebih tepatnya generasi saya), fase alay disalurkan melalui media sosial friendster dan hUrUF bEsAr KeCIl. Sekarang, era sudah berubah. Perwujudan fase alay bukan lagi diimplementasikan dalam bentuk tulisan. Saya yakin anak-anak yang bermain tiktok juga ogah menulis huruf besar kecil karena mereka menganggap itu alay (dan tiktok tidak alay).

Sebagian anak ada yang sukses juga terkenal dengan bermain tiktok, dan hal tersebut sangat wajar karena anak seumurannya memang menyukai hal itu. Mereka, anak-anak yang mendadak terkenal karena tiktok, tentu akan melewati sebuah fase “star syndrome”, dimana hal tsb sangat lumrah karena mental mereka sendiri belum begitu matang. Jangankan anak-anak, orang dewasa yang tiba-tiba terkenal saja bisa terkena star syndrome.

Beberapa orang ada yang protes “bikin tiktok semudah itu bisa terkenal, musisi yang bekerja keras siang malam justru tidak dihargai.” Saya sendiri merasakan hal itu, tapi saya sangat maklum karena memang pangsa mereka sesuai dengan kebanyakan mayoritas anak-anak pengguna media sosial. Saya pribadi sudah mensetting mindset tujuan dalam berkarya, sehingga saya tidak heran ketika seorang bowoo_alpenliebe jauh lebih terkenal dibandingkan Tribowo Jefry.

Yang lebih lucu dari bocah tiktok star syndrome adalah: orang dewasa yang menghina dan berkata kasar ke anak tiktok. Anak-anak wajar bermain tiktok dengan sesuka hati dan berperilaku star syndrome karena mereka masih anak-anak. Orang dewasa yang seharusnya lebih dewasa apakah wajar menghina dan berkata kasar ke anak-anak? Bahkan banyak sekali video di youtube orang-orang dewasa yang isinya menghina bocah tiktok. Tujuannya? Adsense.

Salah satu yang sering dipergunjingkan lagi adalah: meet n greet berbayar bocah tiktok dengan harga selangit. Bagi orang dewasa tentu tidak melihat value dari acara tsb, tapi bagi anak-anak seumuran mereka, acara tersebut memiliki value yang tinggi. Masalah harga selangit, itu karena pihak EO yang ingin mengeruk uang sebanyak-banyaknya memanfaatkan ketenaran bocah tiktok. Bocah tiktok itu sendiri pasti hanya iya-iya saja ketika dimanfaatkan, karena bagi mereka yang terpenting bisa bertemu dengan “fans-fansnya”.

Saya yakin cepat atau lambat mereka pasti akan dewasa setelah melewati fase-fase tersebut. Akan ada fase dimana mereka memandang layar hape sambil menonton video tiktoknya dahulu dan berkata “Kok saya alay sekali dahulu?”. 


Mungkin, beberapa tahun ke depan akan muncul berbagai medium baru lagi sebagai penyalur kealayan anak muda yang tidak bisa lagi disalurkan melalui huruf besar kecil ataupun tiktok. Dan kita sebagai orang dewasa harus siap-siap untuk menyaksikan atau bahkan menggunjingkannya kembali.

You Might Also Like

0 comments